Sabtu, 19 Maret 2011

Doa Anak Anak Muda

Doa Mencari Jodoh


Ya Tuhan,

Kalau dia memang jodohku , Dekatkanlah ...

Tapi kalau bukan jodohku, jodohkanlah ....

Jika dia tidak berjodoh denganku, maka jadikanlah kami jodoh ...

Kalau dia bukan jodohku, jangan sampai dia dapet jodoh yang lain selain aku ...

Kalau dia tidak bisa di jodohkan denganku, jangan sampai dia dapet jodoh yang lain. Biarkan dia tidak berjodoh sama seperti diriku...

Dan saat dia telah tidak memiliki jodoh, jodohkanlah kami kembali...

Kalau dia jodoh orang lain, biarkanlah ...!!! Jodohkanlah dengan ku ....

Jika dia tetap menjadi jodoh orang lain, biar orang itu ketemu jodoh dengan yang lain dan kemudian jodohkan kembali dia dengan ku.

By : http://www.facebook.com/presiden.FIFA

intimate memories....

kupandangi langit malam yg gelap bertabur bintang, seperti taburan bayang mu yg menatap ku.

Jika bintang hanya sekedar bintang, kenapa ingin ku gapai dan ku dekap. Jika hati ini hanya sekedar hati, kenapa rindu ini semakin berat untuk mu.

Mungkin karena diri ku dan dirimu saling menjauhi, atau mungkin hanya diriku yang menjauhimu. Maaf, jika aku bersalah.

Tp kini ku tak sanggup tuk mendekatimu, hanya karena menghargai perasaan mu dan dirinya, Setelah ku tahu rasanya sakit dari diri mu, mungkin rasa iri, cemburu, dan rindu selama 3 tahun kita saling mengenal.

AHmm ... Tapi, hati ku ini takkan pernah menjauhi dirimu bahkan tuk melupakanmu. Karena nama dan wajahmu telah kau toreh kan dalam-dalam di hati ini.

Ku sadar siapa diriku dan siapa dirimu, ku tak bermaksud tuk memaksa dan ku ingin kau tahu. Hati ini masih untukmu entah sampai kapan..

Jumat, 18 Maret 2011

Asmara

Sungguh ku tiada percaya, bahagia hanya sementara Sukarnya ku menerima, cintaku berputik tiada

    Laksana embun menitik, bagaikan rindu yang syahdu Dunia penuh prasangka, kekasih jauh di sebrang sana

Laksana jarum di tangan, kecilnya tidak kelihatan Dapatkah dikau bayangkan, betapa beban perpisahan

    Seandai ditakdirkan, Kau bukan menjadi milikku Tidak dapat ku bayangkan, dapatkah ku pertahankan Cinta di hati ingin bertemu, di sangkar madu, Subhanallah indahnya…

Asmara kasih setia, berkata di dalam jiwa, betapa resah di kalbu Ku rindu selalu, dengar suaramu, ku bagai di penjara

    Cintaku kecewa kasihku derita, rinduku tiada terkira Seandainya berpisah, kasihku berubah, cintaku merana lagi

Betapa kecewa di jiwa, cintaku tiada bertanda Namun ku masih menerima, pasrah ku di akhir cinta

    Ya Rabb, tolonglah hamba-MU, tabahkan hati yang merindu Semoga takdir yang menerima, tersirat hikmah di hatiku

Kamis, 17 Maret 2011

Maksiat Lebih Baik Ketimbang Taat

Maksiat yang melahirkan sikap hina dina di hadapan Allah itu lebih baik ketimbang ketaatan keapada Allah yang melahirkan sikap merasa mulia dan sombong.”

Sebesar apa pun kemaksiatan dan dosa seseorang, jika memasuki pintu taubat, Allah tetap menyambutnya dengan Pintu Ampunan yang agung, bahkan dengan kegembiraanNya yang Maha dahsyat kepadamu.

Karena sebesar langit dan bumi ini, jika anda penuhi dengan dosa-dosa anda, dikalikan lagi dengan lipatan jumlah penghuni planet ini, kelipatan dosa itu, sesungguhnya ampunan Allah masih lebih besar dan lebih agung lagi.

Oleh sebab itu Ibnu Athaillah membesarkan hati orang yang telah berbuat dosa agar tidak putus asa terhadap ampunan Allah, bahkan orang yang berdosa namun bertobat dengan penuh rasa hina dina dihadapan Allah itu dinilai lebih baik, dibanding orang yang ahli ibadah yang merasa hebat, merasa suci, merasa paling mulia dan merasa sombong dengan ibadahnya

Mengapa ? Karena ada dosa yang lebih tinggi lagi disbanding maksiat, yaitu dosanya orang takjub atau kagum pada diri sendiri. Bahkan Rasulullah saw. Bersabda : “Jikalau kalian tak pernah berbuat dosa, niscaya yang paling saya takutkan pada kalian adalah yang lebih dahsyat lagi, yaitu ‘ujub (kagum pada diri sendiri).”

Bahkan betapa banyak orang yang dulunya ahli maksiat lalu diangkat derajatnya menjadi manusia mulia di hadapan Allah Ta’ala. Begitu juga banyak ahli ibadah tetapi berakhir hina di hadapanNya gara-gara ia sombong dan merasa lebih dibanding yang lainnya. Orang yang beramar ma’ruf nahi mungkar, apakah ia aktivis muslim, da’I, ustadz, kyai, ulama’, muballigh, ketika mereka menyerukan amar ma’ruf nahi mungkar, lantas dirinya merasa lebih baik dari yang lain, adalah wujud kesombongan yang hina pada dirinya.

Dibanding seorang preman yang bertobat, pelacur yang bertobat, maling yang bertobat dengan kerendahan jiwa di hadapan Allah, mereka yang merasa paling Islami itu justru menjadi paling hina, jika ia tidak segera bertobat.

Nabi Adam as, mendapatkan kemuliaan luar biasa sebagai Nabi, Rasul, Khalifah, Abul Basyar, justru ketika sudah turun di muka bumi, karena tindak dosanya di syurga. Namun Nabi Adam bertobat dalam remuk redam jiwanya dan hina dina hatinya di depan Allah, justru Allah mengangkat dan menyempurnakan ma’rifatnya ketika di dunia, bukan ketika di syurga dulu.

Nabi Adam as, menjadi Insan Kamil ketika di dunia, bukan ketika di syurga. Oleh sebab itu terkadang Allah mentakdirkan maksiat pada seorang hamba dalam rangka agar si hamba lebih luhur dan dekat kepada Allah. Wacana ini dilontarkan agar manusia tidak putus asa atas masa lalu dan nodanya di masa lampau, siapa tahu, malah membuat dirinya naik derajat.

Wacana ini pula tidak bias dipandang dengan mata hati, nafsu dan hasrat hawa. Misalnya, “Kalau begitu maksiat saja, siapa tahu, kita malah naik derajat…” Kalimat ini adalah kalimat yang muncul dari hawa nafsu!

Wacana mengenai naiknya derajat paska maksiat, hanya untuk orang yang sudah terlanjur maksiat, agar tidak putus asa dan tetap menjaga rasa baik sangka kepada Allah Ta’ala (husnudzon). Apalagi di akhir zaman ini, jika disurvey, membuktikan bahwa orang yang kembali kepada Allah dengan taubatnya, biasanya didahului oleh kehidupan yang hancur-hancuran, maksiat yang bernoda.

Akhir zaman ini juga banyak dibuktikan, khususnya di wilayah kota, betapa banyak orang yang merasa bangga diri dengan ahli ibadahnya, ketekunan dan taatnya, diam-diam ia ujub dan sombong, merasa lebih dibanding lainnya.

Sifat hina dina adalah wujud kehambaan kita. Manusia akan sulit mengakui kehambaannya manakala ia merasa mulia, merasa sombong, ujub, apalagi merasa hebat dibanding yang lainnya.

Karena itu rasa hina dina, apakah karena diakibatkan oleh kemaksiatan atau seseorang mampu menjaga rasa hina dina di hadapan Allah, adalah kunci terbukanya Pintu-pintu Allah Ta’ala, karena kesadaran seperti itu, membuat seseorang lebih mudah fana’ di hadapanNya.

Gurindam Kerinduan


Sepasang kekasih terbaring dalam kesunyian Disandingkan di dalam rahim gelap kematian Sejati dalam cinta, setia dalam penantian Satu hati, satu jiwa, di dalam surga keabadian


Terkulai di puncak rindu Tenggelam dalam sendu Kasih mu tak siapa Bisa tanggalkan

Biar luka parah Biar jiwa lara Kasih mu yang sebati Sukar ku pisah

Siapa bisa rasakan Gelora cinta si Laila Siapa gerangan Kalaulah bukan Majnun

Mesti ada saksi Mesti tegak bukti Sebuah pengorbanan Sebagai ganti

Lafazkan cinta mu satu Azamkan cinta mu satu Nazarkan cinta mu satu

Kibarkan cinta mu satu Laungkan cinta mu satu Juangkan cinta mu satu

“Kau penyebab sekaratku yang berkepanjangan Tetapi hasratku padamu membuat kau kumaafkan.”

” Jiwa manusia tidak lebih dari seberkas cahaya, terlahir untuk bersinar dalam suatu masa yang singkat sebelum akhirnya padam selamanya. Di alam ini semua ditakdirkan untuk binasa, tidak ada yang abadi. Namun, jika Anda ‘mati’ sebelum Anda mati, berpaling dari dunia dan kemunafikan wajahnya, Anda akan meraih keselamatan yang sesungguhnya dalam kehidupan yang abadi.”

Rabu, 16 Maret 2011

MizZ5 yOu..


ku buka mata hati..Kau dekat disini..
Walau jauh dari raga ini..
Namun ku menanti hingga akhir..


Kerinduan begitu pekat dalam hati..
Tak sanggup untukku menahan sedih..
Saat kau tak ada disisi..
Dan ku hanya menanti..


kau di hatiku..
Adalah senandung kalbu..
Yang tetap terdengar..
Dalam pekatnya rindu..


Hanya penantian ..
Menanti kau pulang..
Kembali disini..
Untukku yang kau cinta..


Waktu terus bergulir..
Silih berganti..
Tapi aku hanya bisa menunggu dan menanti..
Kau datang padaku kasih..