Senin, 11 April 2011

Munajat_cinatkU..

Aura rindu memenuhi jiwa
dan melimpah ke haribaan
Aliri seluruh darah
Sampai kedua belah tangan
Dan ketika hasratku bergejolak
Tersingkaplah dihadapan
Jalan lapang mencapai halaman kekasihku
Kediaman cinta ku
Mengingatmu adalah membuat diriku
Hidup dalam hidup
Melelahkan,aku mengeluh pada amir kalifah
Yang sedang melaju
Cintaku,hasratku,nyala rinduku
Tak tertahankan sampai kepertemuan
Segeralah kafilah melaju
Agar singkat rasa pedihku
Demi malam-malam
Yang kalbuku terus merindu
Ingatan panjang tentang diri
Kekasihku....
By : Achmad Dhany

munajat_cinta07@yahoo.com Tel : +971505921807 09-03-26 PUISI

Falsafah_cintA

Falsafah Cinta. Sekarang ini makna dari cinta yang luhur itu mulai mengalami pergeseran dan penyempitan. Cinta yang universal mulai sering diartikan hanya sebagai ungkapan sayang dari dua manusia yang berlainan jenis kelamin.Orang jadi sering dan mungkin terbiasa berpikir bahwa cinta hanyalah milik dari dua sejoli yang sedang dimabuk asmara. 


Padahal masih banyak cinta lain yang harus kita berikan. Cinta kita kepada Tuhan, Rasul, Orang Tua, Saudara, sesama manusia, sesama makluk dan masih banyak lagi. Bagaimana jadinya kalau hanya cinta kepada lain jenis yang porsinya ditonjolkan? Cinta lain jenis biasanya diikuti oleh nafsu sex. Dan kalau nafsu sex yang ditonjolkan maka tak ada lagi yang namanya cinta sejati, karena yang ada adalah keinginan dan ego sendiri untuk memperoleh kepuasan. 
Cinta bisa membuat orang membabi buta dalam mengambil tindakan jika mengikutkan nafsu yang berlebihan. 
Cinta disertai nafsu adalah sah selama dalam batas koridor karena tanpa nafsu orang tak ada lagi keinginan untuk mencintai. 
Cintailah sesuatu sesuai porsinya masing-masing, sehingga kita bisa memanfaatkan nafsu pada tempatnya. Nafsu ingin bahagia, nafsu ingin melindungi, nafsu ingin dipuaskan dan lainnya. 
Cintailah sesuatu pada tempatnya karena dengan cinta maka orang bisa rela dan siap melakukan apa saja untuk sesuatu yang dicintainya. 
Cinta dan Nafsu adalah fitrah manusia dari sejak diciptakan dan ini adalah wajar hanya masalahnya bagaimana menerapkan cinta dan nafsu ini agar bisa berjalan secara berdampingan. 
Cinta adalah ungkapan hati dan nafsu adalah sarana untuk memenuhi ungkapan hati ini. Jadikanlah cinta sebagai kusir nafsu dan jangan sampai nafsu menjadi tali kendali cinta.

Sumber: Falsafah Cinta http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/1797751-falsafah-cinta/#ixzz1JCkbrpOo

Minggu, 10 April 2011

sambutlah mentari pagi dengan senyuman



Tak bisa ku lupa saat-saat indah bersamamu
Semua cerita mungkin kini hanya tinggal kenangan
Ku harus pergi meninggalkan mu di dalam sepi ku
Bukan ingin ku tuk menyakiti perasaan mu
Maafkan aku . . .
Maafkan aku yang tak bisa menunggu hatimu
Lupakan saja diriku untuk selama-lamanya
Ku harus pergi meninggalkan mu didalam sepi ku
Bukan ingin ku tuk menyakiti perasaan mu
Maafkan aku . . .
Tidurlah sayang ku mentari tlah menunggu
Sambutlah pagi nanti dengan hati tersenyum
Bermimpilah cinta dengan segenap rasa
Kini tibalah saatnya kita harus berpisah
Maafkanlah aku yang tak bisa menunggu
Lupakan saja diri ku untuk slama-lamanya

Relung_hatI


Ketika hati sedang bersedih, mengapa bayang-bayang masa lalu selalu datang menghantui pikiran. Adakah perasaan menyesal didalam hati ini dengan apa yang sudah terjadi……

Penyesalan selalu datang belakangan , tapi adakah gunanya jika penyesalan itu menjadi buah pikiran yang selalu datang didalam kehidupan ini.

Jika semua orang menyesali apa yang telah terjadi karena semua ini bukan datang dari kehendak hati, Salahkah jika orang tersebut berusaha mencari kebahagian lain..yang selama ini belum didapatkannya.
Hidup itu memang suatu anugerah yang harus di syukuri dan dinikmati, namun… sampai sejauh mana nikmat yang telah kita dapatkan dapat kita rasakan dengan hati yang begitu lapang.

Didalam kehidupan ini setiap permasalahan pasti akan ada jalan pemecahannya, jika pemecahannya sudah kita temukan namun masih ada saja ganjalan dihati ini untuk melangkah terus kedepan, mungkinkah ada jalan lain menuju kebahagiaan.

hati dan cintaku


Mula Cinta 


Ahlak indah_Sumber cinta sejati 


Cinta untuk hati 


Cinta adalah berbagi 


Cobaan selalu datang kepada cinta 


Pengerat cinta 


Letakkan hati kekasih diatas 


Tingkatan Cinta 


Rasakanlah kesedihannya 


Rutinkan ritual cinta


Nyatakan cintamu 


Ujaran lembut sebagai pupuk pohon cinta 


Cinta_Ikatan yang kuat 


Dahulukan kekasih 


Bersedih karena cinta 

Sabtu, 09 April 2011

Kesetiaan Cowok Berdasarkan IQ Yang Dimilikinya

Peneliti di sebuah universitas di Inggris menemukan, pria dengan IQ lebih tinggi akan lebih setia pada pasangannya dan selalu menjunjung tinggi nilai monogami dibandingkan pria lain yang IQ-nya tergolong rendah. Namun, dari hasil penelitian ini, hubungan antara moralitas seksual konvensional dan intelektualitas tidak tercermin pada wanita. Para peneliti tidak menemukan bukti bahwa wanita yang IQ-nya lebih tinggi memiliki sikap sama seperti pria cerdas dengan IQ tinggi.

Pola-pola kesetiaan justru hanya ditemukan dalam diri pria yang diteliti oleh Dr. Satoshi Kanazawa dari London School of Economics pada jurnal yang dipublikasikan di 'Psikologi Sosial Quarterly' edisi Maret. Sebagai bagian dari studi, Dr. Kanazawa menganalisis dua survei utama AS yang dipastikan sikap sosial dan IQ dari ribuan remaja dan orang dewasa.

Dia menyimpulkan: "Sebagai analisis empiris menunjukkan, pria yang lebih cerdas cenderung lebih monogami dan selalu menjunjung nilai eksklusivitas seksual dibandingkan dengan pria kurang cerdas alias ber-IQ rendah."

Dr. Kanazawa juga mengklaim, korelasi antara kecerdasan dan monogami pada pria memiliki asal-usul dalam perkembangan evolusioner. Menurutnya, eksklusivitas seksual adalah sebuah "evolusi novel" kualitas yang bermanfaat bagi orang-orang di zaman purba, yang diprogram untuk mengetahui tingkat kesetiaan seseorang.

Dunia modern tidak lagi menganugerahkan keuntungan evolusioner untuk orang-orang yang memiliki beberapa mitra seksual, tetapi hanya orang-orang cerdas yang mampu melepaskan beban psikologis spesies mereka dan mengadopsi cara-cara baru berperilaku. Berdasrkan studi ini "evolusi novel" merupakan kualitas yang lebih umum di kalangan orang-orang dari kecerdasan yang lebih tinggi

ungkapan rasa rindu


Terasa hati ingin bertemu,
Bagi meluah rasa rindu,
Pendam tersemat didalam kalbu,
Siang malamku tak rasa jemu.
Jaringan kata selalu digunakan,
Dalam percintaan dan juga keluarga,
Apakah masih ingin bertanya,
Pada diriku yang jauh dimata? 
Perasaan rindu tetap ada,
Walau kutahu aku dan dikau siapa,
Namun kasih sayang selalu menjelma,
Hingga terkadang aku lupa.
Kasih dan sayang telah terbina,
Antara dua insan yang hina,
Kuselam hati mu wahai dara,
Seolah kau berada didepan mata.
Wahai kasihku yang jauh dimata,
Izinkan diriku mundur sebentar,
Walau ada sistem porak peranda,
Namun dirimu pasti tetap tampil.
Dalam hati aku membisu,
Resah gelisah ku jadi tak tentu,
Teringat selalu akan dirimu,
Membuat aku duduk menunggu.
Bila terdengar akan suaramu,
Hilang sudah rindu dikalbu,
Bilakah kita dapat bertemu,
Mencurah kasih sepanjang waktu.
Dalam hati bertanya-tanya,
Mengapa resah selalu melanda,
Sungguh pun dikau jauh dimata,
Namun begitu dekat dirasa.
Terpaut hati mendengar suaramu,
Terpikat hati memandang wajahmu,
Setiap hari ku di ulit rindu,
Membilang waktu tanpa jemu.
Terasa hati begitu sunyi,
Hanya duduk seorang diri,
Menanti siputeri setiap hari,
Bilakah agaknya akan kembali?
Daku menghilang tidak kemana,
Hanya menambahkan ilmu didada,
Andai terasa sunyi dijiwa,
Ingatlah daku tiap saat.
Kenangan lama terusik kembali,
Pertemuan penuh membawa arti,
Telah kuselami hatimu dewi,
Pastikah kunci akan kujumpai?
Maafkan daku mencurah rasa,
Mungkin membuat dikau berduka,
Hanya satu yang kupinta,
Jaga kerahasiaan segala hubungan kita.
Ingin berlinang air mata,
Tapi tidak kejatuhan jua,
Mengenang nasib menimpa didada,
Dek angkara keterlanjuran kata.
Teringin aku menatap wajahmu,
Serasa ingin kau disampingku,
Detik pertemuan dihujung minggu,
Mendebarkan hati untuk menunggu.
Kemesraan dijalin begitu indah,
Hubungan dipupuk begitu mesra,
Hampir setahun menjangkau sudah,
Semoga tetap gembira selalu.
Namamu nina begitu mesra,
Hingga membuat diriku tergoda,
Apakah dikau juga merasa,
Ada seseorang menyayangi dirimu dinda.
Dalam rindu ku sebut namamu,
Suara yang merdu menusuk kalbu,
selalu saja kuteringatkan dirimu,
Hingga tidurku menjadi tak menentu.
Hati tergoda padamu dinda,
Membuat diriku hampir lupa,
Dikau berada jauh dimata,
Ingin saja ku sentuhmu dinda.
Kerinduanku terhadapmu mencengkam diriku,
Saban hariku makan tidak menentu,
Ingin saja ku dekati dirimu,
Agar terubat segala lukaku.
Dalam kerinduan kupendamkan selalu,
Walauku tahu pedih terasa pilu,
Namun apakan daya diriku,
Mengasihi dirimu mengembirakan daku.
Melepas rindu pada dirimu,
Agar tenang rasa dikalbu,
Walau tidak rasa tahu,
Apakah juga dikau begitu?
Hadirmu disisi menghibur diriku,
Membuat hatiku semakin merindu,
Ingin saja ku temui dirimu,
Walau hanya dalam mimpiku.
Apakah dikau merasa kaku,
Memperhatikan saja pantun dariku,
Atau mungkin memikirkan sesuatu
Bagai menyatakan maksud dirimu.
Tertawan diriku dek kemerduan suaramu,
Begitu juga dengan tingkah lakumu,
Hampir saja kujerit memberitahu,
Bahwa aku sangat merindu dirimu.
Ku tahu kerinduanmu terhadap,
Apakan daya batasan antara kita,
Biar waktu melompat berlalu,
Moga hubungan tetap terpelihara.
Aku juga mengerti maksudmu,
Serta apa yang tersirat dalam kalbu,
Pupuklah hubungan agar jitu,
Semoga kita bahagia selalu.
Dalam meniti hari berlalu,
Menunggu berita darimu,
Tapi siulan burung yang tidak merdu,
Dibandingkan dengan suara dirimu.
Terasa ingin mendengar suaramu,
Agar selalu dekat ditelingaku,
Namun ada batas tertentu,
Atas kesibukan diriku dan dirimu.
Harum baumu semerbak mewangi,
Membuat diriku tertarik hati,
Ingin kuketahui rahasia tersembunyi,
Apakah penwangi yang cik adik gunai?
Minyak tertumpah diatas belanga,
Nasib baik tak kena kulit yang licin,
Kalau tak salah abang nak bertanya,
Bagaimana rupanya puteri lilin?
Kalau padi katakan padi,
Janganaku tertampi-tampi,
Kalau sudi katakan sudi,
Jangan aku ternanti-nanti.
Maafkan daku membuat dikau ternanti,
Apakah terima atau tak sudi,
Apalah daya diriku ini,
Hanya harapan dalam ilusi.
Pandai adinda menyusun kata,
Menyatakan hasrat yang begitu nyata,
Bilakah pula dapat bersua,
Mencurahkan resah yang kuat membara.
Mengapa bertanya pada adinda,
Sedangkan tuan lebih maklumi,
Hanya menunggu undangan tuan hamba,
Pasti adinda akan ditemukan.
Teringatkan dirimu setiap hari,
Terasa ada istimewa tersendiri,
Punya budi yang penuh pekerti,
Hingga diriku tak sabar menanti.
Tidak ada istimewanya diri adinda,
Hanya pandai berseloka manja,
Menggoda tuan tak terhingga,
Akhirnya sendiri yang sengsara.
Janganlah adinda berkata begitu,
Terlalu sayu mendengar hatiku,
Begitu nyaman bermanja denganmu,
Apakah juga dikau begitu?
Maaf dipinta jika kanda terasa,
Bukan niat untuk menggoda,
Hanya sekadar belaian manja,
Menepis rasa kesunyian merajalela.
Kufahami apa maksud adinda, 
Begitu seperti yang kurasa,
Harapan kita sama memeliharanya,
Agar tidak ada yang menanyanya.
Terasa ingin ku bertanya,
Tidakkah mengundang pertanyaan,
Dari kalangan teman sekerja,
Tatkala menerima panggilan adinda.
Tidakkah yg rasa curiga,
Melihat kemesraan tatkala berbicara,
Pasti ada yang merasa,
Cuma tak berani untuk bertanya.
Teramat malang pada yang mencoba bertanya,
Atau yang mencoba mengorek rahasia,
Pasti tidak berani untuk mencoba,
Alamat nahas yang pasti diterima.
Bukan sekadar kecelakaan yang mereka terima,
Bahkan takut untuk bersua,
Pabila kekanda merasa murka,
Pasti berhamburan pelusuk dunia.
Agak sulit menatap wajahmu dinda,
Hanya mampu menjeling saja,
Takut apa pula diperkata,
Kalau terus aku mencoba.
Walau hari berganti waktu,
Hubungan erat bertambah mesra,
Terasa dunia kita yang empunya,
Lupa seketika posisi kita.
Kerinduan itu tetap membara,
Tidak akan padam dgn iringan waktu,
Tika bersua tetap menyala,
Hanya perpisahan menghapus segalanya.
Duhai adinda yang jauh dimata,
Malamku sepi menunggu dinda,
Kusangkakan dikau mengunjung tiba,
Dalam mimpiku penuh makna.
Ingin kusentuh jari jemarimu,
Agar kau dapat rasakan sentuhan kasihku,
Betapa rindu dan kasihku terhadapmu,
Meskipun tidak kutahu kesudian darimu.
Berlalu sudah usiamu setahun yg lalu,
Bertambah usiamu megikut peredaran waktu,
Semoga kebahagiaan berkepanjangan utk dirimu,
Dalam menghadapi hari-hari mencengkam rasa.
Tiada apa yang dapat kukirimkan,
Hanya sekedar salam penuh memori,
Ikhlas dari sanubari ku luahkan,
Agar dirimu selalu mendapat keceriaan.
Hari-hari semalam yang dilalui,
Terlalu banyak nostalgia menggamit hati,
Adapun hari esok pasti dilangkahi,
Bersama harapan untuk dipenuhi.
Dalam hati ku memendam perasaan,
Sayang dan kasih pada seorang insan,
Aku hadapi penuh kesabaran,
Agar mimpiku menjadi kenyataan.
Entah kemana hilang si anak dara,
Ku asyik menunggu tak kunjung tiba,
Entah kan terperanjat dek laut bergelora,
Atau hanya melamun saja.
Senyum tawa memikat jiwa,
Hingga tidurku langsung tak lena,
Sejak bertemu bertentang mata,
Bilakah dapat ku suntingmu dara?
Habih dah lawak dan pantun jenaka,
Hanya untuk berlibur saja,
Menentramkan jiwa dan raga,
Agar segar tenang selalu.
Mengapa ada keraguan dihati,
Ungkapan begitu telah lama kuberi,
Namun mungkin ku hanya menyendiri,
Mengukirkan kata dihati.
Telah Kusunting hatimu dara,
Dalam diam engkau menerima,
Alangkah gembira hati kekanda,
Ku harap begitu padamu jua.
Ku bisik suara hatiku dihatimu,
Agar dikau dengar lembut,
Tapi sungguh malang nasibku,
Karena dikau masih diam membisu.
Wahai kekanda idaman sidara,
Mengukir pantun meruntun jiwa,
Walau diam telah diterima,
Tapi pedih tetap terasa.
Mengapa berbeda rupa,
Dari apa yang ku sangka,
Apakah karena tak cukup rasa,
Atau hanya dibibir saja?
Mengapa tuan berpikir sebegitu,
Apa pula yang tuan sangka,
Janganlah menuduh melulu,
Atau diriku salah bicara?
Dalam riak menghitung waktu,
Memikirkan sesuatu yang ingin diperkata,
Kekadang hilang entah kemana,
Buah pikiran yang ingin dikata.
Bukan menuduh untuk mengata,
Jauh sekali berburuk sangka,
Padamu dewi pujaan kanda,
Hanya sekedar menduka rasa.
Terukir kata dibibir mesra,
Selain itu bila gaya,
Sering pikiran aku bertanya,
Benarkah gembira hubungan kita?
Pertemuan diatur terlalu indah,
Banyak pula yg ingin diluah,
Pabila bertentang mata rasa resah,
Kelu lidah untuk bermadah.
Pertemuan ketiga dalam nostalgia,
Penuh dengan kenangan manis, 
Senyuman dan keramahan taun sulit dilupa,
Mana mungkin rindu ditepis?
Tanjung Harapan pertemuan,
Merungkai pedaman rasa rinduan,
Keceriaan tergambar penuh pengharapan,
Walau waktu menjadi batasan.
Dalam hati kusimpan rasa,
Ingin menyinta atau dicinta,
Takut nanti terlanjur bahasa,
Padah pula yang menimpa.
Hubungan mulai dijaringan,
Dari teman biasa ke teman bicara,
Sulit untuk memberi jawaban,
Antara mencintai dan dicinta.
Dalam hati terusik rasa,
Tapi takut untuk berkata,
Terus saja memendam rasa,
Jangan pula sampai terluka.
Bahagia rasanya jika dicinta,
Pilu terasa pabila menyinta,
Menjeruk jiwa memendam rasa,
Apakah episode akibatnya??
Telah kuduga pertanyaan adinda,
Persoalan diminta begitu rupa,
Memang menjadi lumrah manusia,
Teramat bahagia bila dicinta.
Berbagai kisah tentang cinta,
Hingga dapat membuat cerita,
Pasti ada episode akhirnya,
Untuk menjelaskan apa akibatnya.
Memang tuan pandai berkata,
sungguh sangat memikat jiwa,
Antara kasih, sayang dan cinta,
Dimanakah posisi hubungan kita?
Usah dinda merasa berduka,
Atau mungkin memendam rasa,
Hubungan dibangun penuh bahagia,
kiranya kita dapat berjumpa