Sabtu, 09 April 2011

ungkapan rasa rindu


Terasa hati ingin bertemu,
Bagi meluah rasa rindu,
Pendam tersemat didalam kalbu,
Siang malamku tak rasa jemu.
Jaringan kata selalu digunakan,
Dalam percintaan dan juga keluarga,
Apakah masih ingin bertanya,
Pada diriku yang jauh dimata? 
Perasaan rindu tetap ada,
Walau kutahu aku dan dikau siapa,
Namun kasih sayang selalu menjelma,
Hingga terkadang aku lupa.
Kasih dan sayang telah terbina,
Antara dua insan yang hina,
Kuselam hati mu wahai dara,
Seolah kau berada didepan mata.
Wahai kasihku yang jauh dimata,
Izinkan diriku mundur sebentar,
Walau ada sistem porak peranda,
Namun dirimu pasti tetap tampil.
Dalam hati aku membisu,
Resah gelisah ku jadi tak tentu,
Teringat selalu akan dirimu,
Membuat aku duduk menunggu.
Bila terdengar akan suaramu,
Hilang sudah rindu dikalbu,
Bilakah kita dapat bertemu,
Mencurah kasih sepanjang waktu.
Dalam hati bertanya-tanya,
Mengapa resah selalu melanda,
Sungguh pun dikau jauh dimata,
Namun begitu dekat dirasa.
Terpaut hati mendengar suaramu,
Terpikat hati memandang wajahmu,
Setiap hari ku di ulit rindu,
Membilang waktu tanpa jemu.
Terasa hati begitu sunyi,
Hanya duduk seorang diri,
Menanti siputeri setiap hari,
Bilakah agaknya akan kembali?
Daku menghilang tidak kemana,
Hanya menambahkan ilmu didada,
Andai terasa sunyi dijiwa,
Ingatlah daku tiap saat.
Kenangan lama terusik kembali,
Pertemuan penuh membawa arti,
Telah kuselami hatimu dewi,
Pastikah kunci akan kujumpai?
Maafkan daku mencurah rasa,
Mungkin membuat dikau berduka,
Hanya satu yang kupinta,
Jaga kerahasiaan segala hubungan kita.
Ingin berlinang air mata,
Tapi tidak kejatuhan jua,
Mengenang nasib menimpa didada,
Dek angkara keterlanjuran kata.
Teringin aku menatap wajahmu,
Serasa ingin kau disampingku,
Detik pertemuan dihujung minggu,
Mendebarkan hati untuk menunggu.
Kemesraan dijalin begitu indah,
Hubungan dipupuk begitu mesra,
Hampir setahun menjangkau sudah,
Semoga tetap gembira selalu.
Namamu nina begitu mesra,
Hingga membuat diriku tergoda,
Apakah dikau juga merasa,
Ada seseorang menyayangi dirimu dinda.
Dalam rindu ku sebut namamu,
Suara yang merdu menusuk kalbu,
selalu saja kuteringatkan dirimu,
Hingga tidurku menjadi tak menentu.
Hati tergoda padamu dinda,
Membuat diriku hampir lupa,
Dikau berada jauh dimata,
Ingin saja ku sentuhmu dinda.
Kerinduanku terhadapmu mencengkam diriku,
Saban hariku makan tidak menentu,
Ingin saja ku dekati dirimu,
Agar terubat segala lukaku.
Dalam kerinduan kupendamkan selalu,
Walauku tahu pedih terasa pilu,
Namun apakan daya diriku,
Mengasihi dirimu mengembirakan daku.
Melepas rindu pada dirimu,
Agar tenang rasa dikalbu,
Walau tidak rasa tahu,
Apakah juga dikau begitu?
Hadirmu disisi menghibur diriku,
Membuat hatiku semakin merindu,
Ingin saja ku temui dirimu,
Walau hanya dalam mimpiku.
Apakah dikau merasa kaku,
Memperhatikan saja pantun dariku,
Atau mungkin memikirkan sesuatu
Bagai menyatakan maksud dirimu.
Tertawan diriku dek kemerduan suaramu,
Begitu juga dengan tingkah lakumu,
Hampir saja kujerit memberitahu,
Bahwa aku sangat merindu dirimu.
Ku tahu kerinduanmu terhadap,
Apakan daya batasan antara kita,
Biar waktu melompat berlalu,
Moga hubungan tetap terpelihara.
Aku juga mengerti maksudmu,
Serta apa yang tersirat dalam kalbu,
Pupuklah hubungan agar jitu,
Semoga kita bahagia selalu.
Dalam meniti hari berlalu,
Menunggu berita darimu,
Tapi siulan burung yang tidak merdu,
Dibandingkan dengan suara dirimu.
Terasa ingin mendengar suaramu,
Agar selalu dekat ditelingaku,
Namun ada batas tertentu,
Atas kesibukan diriku dan dirimu.
Harum baumu semerbak mewangi,
Membuat diriku tertarik hati,
Ingin kuketahui rahasia tersembunyi,
Apakah penwangi yang cik adik gunai?
Minyak tertumpah diatas belanga,
Nasib baik tak kena kulit yang licin,
Kalau tak salah abang nak bertanya,
Bagaimana rupanya puteri lilin?
Kalau padi katakan padi,
Janganaku tertampi-tampi,
Kalau sudi katakan sudi,
Jangan aku ternanti-nanti.
Maafkan daku membuat dikau ternanti,
Apakah terima atau tak sudi,
Apalah daya diriku ini,
Hanya harapan dalam ilusi.
Pandai adinda menyusun kata,
Menyatakan hasrat yang begitu nyata,
Bilakah pula dapat bersua,
Mencurahkan resah yang kuat membara.
Mengapa bertanya pada adinda,
Sedangkan tuan lebih maklumi,
Hanya menunggu undangan tuan hamba,
Pasti adinda akan ditemukan.
Teringatkan dirimu setiap hari,
Terasa ada istimewa tersendiri,
Punya budi yang penuh pekerti,
Hingga diriku tak sabar menanti.
Tidak ada istimewanya diri adinda,
Hanya pandai berseloka manja,
Menggoda tuan tak terhingga,
Akhirnya sendiri yang sengsara.
Janganlah adinda berkata begitu,
Terlalu sayu mendengar hatiku,
Begitu nyaman bermanja denganmu,
Apakah juga dikau begitu?
Maaf dipinta jika kanda terasa,
Bukan niat untuk menggoda,
Hanya sekadar belaian manja,
Menepis rasa kesunyian merajalela.
Kufahami apa maksud adinda, 
Begitu seperti yang kurasa,
Harapan kita sama memeliharanya,
Agar tidak ada yang menanyanya.
Terasa ingin ku bertanya,
Tidakkah mengundang pertanyaan,
Dari kalangan teman sekerja,
Tatkala menerima panggilan adinda.
Tidakkah yg rasa curiga,
Melihat kemesraan tatkala berbicara,
Pasti ada yang merasa,
Cuma tak berani untuk bertanya.
Teramat malang pada yang mencoba bertanya,
Atau yang mencoba mengorek rahasia,
Pasti tidak berani untuk mencoba,
Alamat nahas yang pasti diterima.
Bukan sekadar kecelakaan yang mereka terima,
Bahkan takut untuk bersua,
Pabila kekanda merasa murka,
Pasti berhamburan pelusuk dunia.
Agak sulit menatap wajahmu dinda,
Hanya mampu menjeling saja,
Takut apa pula diperkata,
Kalau terus aku mencoba.
Walau hari berganti waktu,
Hubungan erat bertambah mesra,
Terasa dunia kita yang empunya,
Lupa seketika posisi kita.
Kerinduan itu tetap membara,
Tidak akan padam dgn iringan waktu,
Tika bersua tetap menyala,
Hanya perpisahan menghapus segalanya.
Duhai adinda yang jauh dimata,
Malamku sepi menunggu dinda,
Kusangkakan dikau mengunjung tiba,
Dalam mimpiku penuh makna.
Ingin kusentuh jari jemarimu,
Agar kau dapat rasakan sentuhan kasihku,
Betapa rindu dan kasihku terhadapmu,
Meskipun tidak kutahu kesudian darimu.
Berlalu sudah usiamu setahun yg lalu,
Bertambah usiamu megikut peredaran waktu,
Semoga kebahagiaan berkepanjangan utk dirimu,
Dalam menghadapi hari-hari mencengkam rasa.
Tiada apa yang dapat kukirimkan,
Hanya sekedar salam penuh memori,
Ikhlas dari sanubari ku luahkan,
Agar dirimu selalu mendapat keceriaan.
Hari-hari semalam yang dilalui,
Terlalu banyak nostalgia menggamit hati,
Adapun hari esok pasti dilangkahi,
Bersama harapan untuk dipenuhi.
Dalam hati ku memendam perasaan,
Sayang dan kasih pada seorang insan,
Aku hadapi penuh kesabaran,
Agar mimpiku menjadi kenyataan.
Entah kemana hilang si anak dara,
Ku asyik menunggu tak kunjung tiba,
Entah kan terperanjat dek laut bergelora,
Atau hanya melamun saja.
Senyum tawa memikat jiwa,
Hingga tidurku langsung tak lena,
Sejak bertemu bertentang mata,
Bilakah dapat ku suntingmu dara?
Habih dah lawak dan pantun jenaka,
Hanya untuk berlibur saja,
Menentramkan jiwa dan raga,
Agar segar tenang selalu.
Mengapa ada keraguan dihati,
Ungkapan begitu telah lama kuberi,
Namun mungkin ku hanya menyendiri,
Mengukirkan kata dihati.
Telah Kusunting hatimu dara,
Dalam diam engkau menerima,
Alangkah gembira hati kekanda,
Ku harap begitu padamu jua.
Ku bisik suara hatiku dihatimu,
Agar dikau dengar lembut,
Tapi sungguh malang nasibku,
Karena dikau masih diam membisu.
Wahai kekanda idaman sidara,
Mengukir pantun meruntun jiwa,
Walau diam telah diterima,
Tapi pedih tetap terasa.
Mengapa berbeda rupa,
Dari apa yang ku sangka,
Apakah karena tak cukup rasa,
Atau hanya dibibir saja?
Mengapa tuan berpikir sebegitu,
Apa pula yang tuan sangka,
Janganlah menuduh melulu,
Atau diriku salah bicara?
Dalam riak menghitung waktu,
Memikirkan sesuatu yang ingin diperkata,
Kekadang hilang entah kemana,
Buah pikiran yang ingin dikata.
Bukan menuduh untuk mengata,
Jauh sekali berburuk sangka,
Padamu dewi pujaan kanda,
Hanya sekedar menduka rasa.
Terukir kata dibibir mesra,
Selain itu bila gaya,
Sering pikiran aku bertanya,
Benarkah gembira hubungan kita?
Pertemuan diatur terlalu indah,
Banyak pula yg ingin diluah,
Pabila bertentang mata rasa resah,
Kelu lidah untuk bermadah.
Pertemuan ketiga dalam nostalgia,
Penuh dengan kenangan manis, 
Senyuman dan keramahan taun sulit dilupa,
Mana mungkin rindu ditepis?
Tanjung Harapan pertemuan,
Merungkai pedaman rasa rinduan,
Keceriaan tergambar penuh pengharapan,
Walau waktu menjadi batasan.
Dalam hati kusimpan rasa,
Ingin menyinta atau dicinta,
Takut nanti terlanjur bahasa,
Padah pula yang menimpa.
Hubungan mulai dijaringan,
Dari teman biasa ke teman bicara,
Sulit untuk memberi jawaban,
Antara mencintai dan dicinta.
Dalam hati terusik rasa,
Tapi takut untuk berkata,
Terus saja memendam rasa,
Jangan pula sampai terluka.
Bahagia rasanya jika dicinta,
Pilu terasa pabila menyinta,
Menjeruk jiwa memendam rasa,
Apakah episode akibatnya??
Telah kuduga pertanyaan adinda,
Persoalan diminta begitu rupa,
Memang menjadi lumrah manusia,
Teramat bahagia bila dicinta.
Berbagai kisah tentang cinta,
Hingga dapat membuat cerita,
Pasti ada episode akhirnya,
Untuk menjelaskan apa akibatnya.
Memang tuan pandai berkata,
sungguh sangat memikat jiwa,
Antara kasih, sayang dan cinta,
Dimanakah posisi hubungan kita?
Usah dinda merasa berduka,
Atau mungkin memendam rasa,
Hubungan dibangun penuh bahagia,
kiranya kita dapat berjumpa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar