Kamis, 19 Mei 2011

Antara Cinta Dan Pengorbanan


BULAN Dzul-hijjah, salah satu bulan yang di dalamnya terdapat sebuah peristiwa besar yang tercatat dalam Al-Qur'an, yang penuh hikmah dan nilai-nilai luhur, yaitu hari raya Aidhul Adhha atau hari raya Qurban.

Kita akan mengenang kembali sejarah peristiwa abadi. Kisah seorang hamba Allah yang menyandang gelaran Khalilullah (kekasih Allah), Nabi Ibrahim a.s. Beliau mendapat gelaran sebagai khalilullah disebabkan kecintaannya kepada Allah yang amat sangat, sehingga menjadi teladan utama sepanjang masa, menjadi guru dan sumber inspirasi yang tiada habisnya bagi mereka yang tunduk dan patuh kepada Allah swt.

Sejarah yang ditampilkan Allah dalam al-Qur'an sehubungan dengan hari raya Qurban ini adalah keteladanan keluarga Nabi Ibrahim a.s. Beliau bukan saja sekadar menunaikan perintah-perintah Allah yang dibebankan kepadanya, tetapi menyempurnakannya. Suatu darjat amaliah yang hanya mungkin diraih oleh peribadi-peribadi yang menempatkan cintanya kepada Allah di atas cintanya kepada apapun juga. Beliau mencintai Pencipta, Pemilik, Pemelihara segala sesuatu, Raja alam semesta, Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Cintanya kepada Allah swt. melebihi kecintaan kepada diri sendiri, isteri dan anaknya serta apa-pun selain Allah.

Cinta Nabi Ibrahim a.s. bukanlah cinta tanpa makna, dan bukan pula cinta syahwat. la merupakan cinta yang agung, penuh dengan nilai-nilai kesucian, ketundukan dan kepatuhan kepada yang dicintainya, yaitu Allah swt. Sebab cinta kepada Allah sajalah cinta yang sebenar-benar cinta. Beliau sanggup meninggalkan kesenangan duniawi yang menjadi kecenderungan setiap insan.

Beliau sanggup untuk berjalan kaki berbulan-bulan di tengah padang pasir di bawah terik sinar matahari yang menyengat dari Syam menuju Makkah demi mematuhi perintah Allah untuk membangun Ka'bah. Bertahun-tahun lamanya beliau bekerja di lembah Makkah yang gersang. Mengangkut batu, memasang dan menyusunnya menjadi sebuah rumah. Itulah Ka'bah (Baitullah). la menjadi kiblat shalat, tempat thawaf, pusat kaum Muslimin yang dikunjungi orang-orang beriman dari seluruh dunia sampai hari kiamat.

Nabi Ibrahim a.s. disertai isterinya Hajar, seorang wanita yang karena cintanya kepada Allah melebihi cintanya kepada selainNya, rela hidup bersama Nabi Ibrahim a.s. di tanah tandus dan kering. Wanita ini menjadi lambang ketaatan dan kepatuhan kepada suami yang patut diteladani sepanjang masa. Ia dengan tabah mendidik dan memelihara anaknya, Ismail, sementara suaminya pergi bertahun-tahun untuk menunaikan tugas Ilahi. Ia sanggup mendidik generasi Rabbani dengan meninggalkan kesenangan-kesenangan yang selalu dinikmati wanita pada umumnya.

Putera mereka, Ismail, juga seorang remaja yang teramat sangat cintanya kepada Allah, yang tentunya merupakan hasil dari didikan orang tuanya. Ismail bersifat lemah lembut, sopan santun, taat dan patuh terhadap perintah Allah serta berbakti kepada orang tuanya. Dia adalah putra idaman Nabi Ibrahim a.s. yang diperoleh setelah lama berdoa kepada Allah, dan diharapkan mewarisi perjuangan orang tuanya menegakkan deen Allah di muka bumi.
Inilah potret sebuah keluarga yang seluruh anggota keluarganya amat cinta dan mematuhi perintah Allah. Untuk membuktikan cinta mereka kepada Allah, sekaligus merupakan bukti cinta Allah kepada mereka, Allah pun menguji dengan perintah yang diabadikan dalam al-Qur'an surah ash Shaffat 102-111:
Maka tatkala Ismail telah mencapai baligh, Ibrahim berkata, Wahai anakku, sungguh aku telah melihat dalam mimpiku bahwa aku menyembelihmu. Maka sampaikanlah pendapatmu. Ismail menjawab, Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, insya' Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Dan ketika keduanya telah berserah diri, dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya (tanda kesabaran keduanya), Allah memanggilnya, Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah melaksanakan perintah dalam mimpi itu dengan benar. Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang yang berbuat baik. Dan .sungguh ini benar-benar ujian yang nyata. Dan Kami (Allah) tebus anak itu dengan sembelihan yang besar, Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian dan kemuliaan) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Keselamatan dan sejahtera atas Ibrahim. Sungguh dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

SEBUAH IBRAH 

Tinta sejarah yang terukir dalam kisah Ibrahim itu bukanlah sekadar cerita pengantar tidur yang tanpa makna. Ia merupakan suatu peringatan dan pelajaran (ibrah) bagi mereka yang memiliki mata hati (ulul abshar). Peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim dan keluarganya mengisyaratkan nilai yang teramat agung yakni cinta sejati kepada Allah. Cinta yang melahirkan ketundukan dan kepatuhan yang dibuktikan dengan pengorbanan yang tulus ikhlas.

Pengorbanan, merupakan realisasi dari cinta kepada Sang Pencipta. Bagi kita orang-orang yang mengaku mukmin, sejarah kecintaan, pengabdian dan pengorbanan yang dicontohkan Nabi Ibrahim a.s. dan keluarganya merupakan teladan bagaimana seharusnya seorang hamba menyambut panggilan dan tugas-tugas dari Allah.

Semangat kesedaran untuk berkorban yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim a.s. ini harus selalu kita tumbuh suburkan, sehingga kelak akan meningkatkan darjat ketaqwaan kita di hadapan Allah swt. Kita tidak boleh berhenti berkorban sebelum ajal datang. Selama hayat masih dikandung badan, selama itu pula semangat berkorban yang dilandasi cinta kepada Allah, harus selalu menggelora di dada kita.

Harta yang kita miliki jabatan yang kita sandang, kedudukan yang kita dapat, anak-anak yang cerdas serta shaleh, rumah yang bagus dan lain-lain, semuanya datang dari Allah. Oleh itu, hendaklah kita kembalikan untuk berkorban dan berjuang di jalanNya. Bukankah kita menyedari, bahawa sebesar apapun harta, tenaga, fikiran dan jiwa yang kita korbankan masih sedikit berbanding dengan nikmat yang dikaruniakan oleh Allah kepada kita. Terlalu banyak ni’mat yang telah kita rasakan, namun masih terlalu sedikit pengorbanan yang kita berikan di jalan Allah.

Marilah kita semak sejenak pengorbanan yang telah diberikan oleh para pendahulu kita, dari kalangan anbiya' dan salafus shaleh. Nabi Yahya a.s. syahid di tiang gantungan, Nabi Zakaria a.s. digergaji tubuhnya. Imam Malik dipenjara, diikat dan dicambuk oleh penguasa zhalim sampai sendi-sendi tulangnya nyaris putus. Bahkan beliau dipaksa berjalan kaki di padang pasir yang terik selama dua bulan dari Yaman sampai Baghdad. Imam Nawawi diusir dari tanah airnya. Imam Abu Hanitah dipaksa minum racun setelah sebelumnya dipenjara dan dirantai lehernya dengan besi. Di abad dua puluh ini, Imam Hasan al Banna syahid ditembak di tengah jalan raya, Sayyid Qutub syahid di tiang gantungan, Abdullah Azzam syahid di medan jihad Afghanistan, dan Iain-lain yang kesemuanya lantaran amat sangat cintanya kepada Allah swt. Sehingga mereka sanggup mengorbankan apa saja demi yang dicintainya.

Demikianlah pengorbanan yang telah dipentaskan oleh para pendahulu kita. Maka menjadi tugas kita untuk meneruskan mata rantai perjuangan/pengorbanan ini. Sekarang kita harus mempersiapkan diri untuk menjadi Ibrahim, Ismail atau Hajar untuk generasi kini dan yang akan datang. Sedia berkorban demi tercapainya cinta dan kasih sayang Allah. Ruhul tahdiah (semangat/jiwa berkorban) harus selalu kita miliki dan kita tumbuhkan agar 'izzul Islam wal Muslimin segera dapat terwujud.

Seluruh hidup dan kehidupan kita semestinya diarahkan kepada suatu pengorbanan yang agung. Apakah kita tidak merasa cemburu bila melihat para shahabat Rasulullah saw. yang berperang menyabung nyawa hidup atau mati demi tegaknya kalimat Allah dan mulianya Islam serta kaum Muslimin? Banyak antara mereka yang syahid bermandi darah di ujung tombak musuh Allah. Para juru dakwah penyebar Islam telah mengorbankan segala apa yang ada pada dirinya untuk kejayaan Islam di seluruh dunia. Mereka menemui hambatan, rintangan bahkan ujian kesakitan dan penderitaan, bahkan kematian.

Apakah kita tidak merasa malu, baik di hadapan Allah maupun di hadapan manusia, bersantai-santai, berdiam diri tanpa mengorbankan sedikit pun yang kita miliki, sementara masih hangat di ingatan kita, tampak di hadapan mata, saudara-saudara kita seiman dan sekeyakinan sedang menyabung nyawa mempertahankan iman dan kehormatannya melawan musuh-musuh Allah. Baik yang ada di Kashmir, India, Aljazair, Palestina, Filipina, Bosnia, dan di negeri-negeri lain yang tidak diketahui nasib mereka. Hari ini mungkin mereka tidak dapat menyembelih haiwan korban berupa kambing, unta, sapi atau kerbau. Akan tetapi mereka korbankan darah dan nyawa mereka sebagai tebusan atas 'izzah mereka .sebagai Muslim dan tanah air tempat mereka bersujud.

Masihkah kita akan berpangku tangan sementara saudara-saudara kita dikejar, dipenjara, disiksa, diperkosa, dan dibunuh oleh musuh-musuh Allah? Tidakkah pernah kita tanyakan pada diri kita sendiri apa yang sudah kita perbuat (korbankan) untuk mereka? Bukankah kita juga mencintai saudara saudara kita di mana pun mereka berada?

Firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu murtad (berpaling) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai Allah, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.”
(QS. alMaidah: 54)

Sebagai orang mukmin, tentulah kita akan mencintai Allah, mencintai agamaNya, serta mencintai orang-orang yang beriman. Kecintaan ini harus dibuktikan dengan semangat untuk berkorban demi mencapai ridhaNya. Berkorban harta, tenaga, fikiran, bahkan darah dan nyawa kita dalam rangka mewujudkan kecintaan kita kepada Allah SWT. Memang .... cinta dan pengorbanan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Ibarat dua sisi duit shiling. Di mana ada cinta, di situ ada pengorbanan. Tiada cinta tanpa pengorbanan!

Firman Allah:
"Dan di antara manusia ada arang-orang yang mengorbankan dirinya unluk mencari keridhaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun pada hamba-hambaNya."
(QS. alBaqarah: 207).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar