Sabtu, 14 Mei 2011

Kesucian Cinta Dan Gelora Nafsu


Sesekali kita menengok ke kedalaman nurani kita. Cobalah bertanya kepada beningnya jiwa, bagaimanakah bentuk cinta yang sesungguhnya ??

Atau bertanyalah kepada merahnya darah, seberapa panaskah nafsu mampu membakar kesucian dirinya??

Setiap gerak adalah pilihan, sebagaimana kita mencoba mendapatkan yang terbaik. Betapa jiwa demikian bergetar tatkala diri tak lagi bernilai dihadapan-Nya. Ataukah justru acuh meski kemurkaan-Nya tak terhitungkan.



Wahai jiwa yang mencoba kembali bersihkan diri, adakah engkau benar ikhlas untuk menggapai itu semua. Atau hanya semu belaka, sekedar ingin membuktikan bahwa engkau masih hormat pada-Nya.



Sungguh cinta tak kan pernah suci, jika darah masih menggenggam geram. Demikian pula angan kian melayang tatkala kau buai aku dengan indahnya khayalan. Begitu banyak hari berlalu tapi entah kemana hendak dituju. Mana yang angkau pilih. Putihnya hati atau gelora nafsu menggantang angan.



Wahai hati yang ingin kembali suci relakah jika ini terus menghantui diri. Bukankah engkau ingin tenang menata diri. Kemanakah lagi kaki ini hendak melangkah, jika jalan terjal dan ngarai curam yang kian menghadang. Meskikah ku berteriak kepada awan, antarkan diri kelaut lepas membiru. Terbang dengan sayap sekokoh sang elang. Ataukah kupasrahkan saja pada angin yang kini enggan berhembus. Biarkan raga ini terkulai lemah dengan penantian panjang akan nasib yang belum tentu adanya.



Hidup adalah pasangan yang tak bisa berdiri tanpa adanya perpaduan. Jika hati hendak berkata:”wahai cinta cukupkah engkau dalam hatiku, butuhkah aku akan gelora merahnya darah”. Engkaupun tersenyum sembari berucap lirih: “Wahai Tuan maukah hidup ini engkau habiskan tanpa ada semangat atau hasrat yang hendak kau capai ? “. Hatikupun segera menyahut ”Tentu tidak wahai cinta, hidup seperti apakah itu. Mati segan hidup tak mau”. Kembali engkau tersenyum ”Begitulah Tuan, nafsu adalah senjata agar jiwa selalu berwarna. Kunci ada padamu Tuan, seberapa pintar engkau menata warna itu sehingga membentuk mahakarya lukisan yang tak ternilai. Sedangkan aku akan membuatnya kian abadi”.



Nafsu adalah warna-warna kehidupan yang menghiasi perjalanan panjang kita didunia. Dan cinta adalah perekatnya sehingga ia kian abadi memancarkan keagungan pribadi diri. Nafsu dan cinta hendaknya berjalan seiringan menuju keridloan-Nya yang tak pernah surut..



http://shirotalhidayat.blogspot.com/2011/01/antara-kesucian-cinta-dan-gelora-nafsu.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar